Salah satu suku di Papua ini ialah suku yang terakhir di temukan di daerah boven digoel, suku koraway batu, dari marga besarnya suku koraway, dimana saudaranya suku koroway rawa yang berada dibagian selatan distrik yaniruma yang diantaranya masuk daerah kabupaten mappi dan asmat. Suku koroway dapat dikatakan memiliki sentral dikampung danowage didistrik yaniruma kabupaten boven digoel, dari ke-lima suku yang ada di kabupaten boven digoel yaitu suku mandobo, suku awuyu, suku muyu, suku kombay dan suku koroway, suku koroway termasuk suku terakhir yang baru dikenal publik, kampung danowage sendiri baru dibuka tahun 2005 oleh pendeta Ainus Kogaya, sehingga perubahan-perubahan sosial budaya masih dalam tahap peralihan saat ini (september 2017), suku koroway memiliki ciri khas yang sanggat ikonik yaitu rumah tinggal mereka yang berda diatas pohon, kita biasa menyebut rumah pohon.
Dalam masa peralihan kehidupan sosial budaya masyarakat suku pedalaman ini masih sanggat bergantung kepada hutannya yang masih sanggat terjaga, ketergantungan konsumsi mereka akan sagu, ubi-ubian, pisang serta hasil buruan berupa babi, kaswari maupun tangkapan ikan di sungai deram, semua itu masih mudah didapatkan saat ini. Hutan yang terjaga memberikan kehidupan bagi masyarakat, maka tidaklah heran bagi mereka hutan meruapkan bagian dari separuh jiwa masyarakat suku koroway, umumnya juga masyarakat papua yang selama ini hidup diantara lembah, gunung maupun rawa-rawa papau. Hutan dalam keyakinan suku koroway juga memiliki arti yang sanggat penting, dalam dokumen yang ditemukan pada didistrik mandobo kampung sokanggo, terdapat gambaran jelas bagaiman penciptaan alam semesta dimana pohon menjadi bagian penting dalam awal mula kehiupan bumi ini. Maka tidaklah heran penjagaan hutan oleh kelima suku yang ada sanggat penting, hubungan kelima suku jika di telisik hanya da 3 suku induk yaitu, suku awuyu, suku mandobo/wambon, dan suku muyu, sedangkan suku koroway dan kombay menurut literatur yang ada disejarah boven merupakan sub-suku awuyu gunung, satu dari 3 kelompok suku awuyu yaitu gunung, darat dan kali. Atas dasar kesadaran masyarakat akan ketergantungan kepada kelestarian hutan inilah masayrakat suku berbondong-bondong menolak isu pembangunan perkebunan sawit baru-baru ini yang mereka duga akan merusak ekosistem hutan, hilangnya air, hilangnya binatang buruan, ikan, hilangnya sagu sebagaimana hanya itulah sumber kehidupan mereka secara turun temurun.
Dinamika otonomi khusus papua memang memberikan dampak bagi semua segi kehidupan masyarakat papua, kesempatan yang diberikan pemerintah pusat kepada masayrakat papua untuk membangun wilayahnya sendiri sesuai kearifan lokal papua berjalan dengan baik, segi pemerintahan dan pengelolaan daerah setidaknya memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat papua sendiri, hal itu yang memang menjadi hak mereka. Namun implikasi dari pembangunan adalah munculnya ekplorasi-ekplorasi lahan daerah yang dimanfaatkan guna mengisi ruang perekonomian sebagai sumber pendapatan daerah, hal ini memang tidak terelakan lagi. Pembangunan yang memakan lahan, membelah hutan, menebang pohon yang juga tak sedikit jumlahnya. Guna meningkatkan PAD tentu pemerintah tidak dapat mengandalkan dari biaya apbd yang ada untuk mengadakan sumber-sumber ekonomi baru bagi daerah, maka memang sudah menjadi wajar pemerintah membuka ruang investasi bagi para investor yang ingin menanamkan modalnya dipapua, khususnya di boven digoel daerah pemekaran baru pada tahun 2004 ini dari kabupaten induk kabupaten merauke. Spesifikasi pembangunan wajibnya pemerintah mengambil peran yang signifikan, pembangunan apa yang cocok diterapkan didaerah yang masyaraktnya masih bergantung kepada hutannya, peralihan kepada perkebunan sawit bukanlah merupakan jawaban yang bijaksana, daerah yang lebih banyak rawa-rawa ini memang cocok untuk di tanami sawit, namun akan memiliki dampak yang cukup besar terhadap keberadaan air, sebagaimana sumber air dari sungai digoel yang menghidupi masyarkat boven digoel karena terjaganya ekosistem hutan itu sendiri. Masyarakat lebih menyukai perkebunan karet, sebagaimana pengakuan warga suku awuyu di kampung ampera distrik mandobo mengatakan “kami takut sawit yang akan dibangun nanti akan mengambil air kami dari hutan, nanti su tada air hutan kami mati, air sungai kami kering, kalau su begitu nanti kami makan apa, sedang kami tak ada yang bisa berkebun, tapi kalau karet memang su banyak dihutan kami, tapi kami bingung jual kemana”.
Perubahan-perubahan perekonomian memang tak dapat dielekan, dengan semakin mudahnya akses trasportasi sungai maupun udara, berbagai barang konsumsi maupun bangunan masuk mempercepat pembangunan wilayah diboven digoel, hal ini seperti menjadi bom waktu bagi masyarakt suku pedalaman yang baru mengenal bahasa maupun pakaian, kondisi suku koroway jauh lebih memprihatinkan, berbeda dengan kampung lainya di boven, akses trasnporatsi ke danowage hanya dapat ditempuh cepat dengan pesawat capung maupun helikpoter, sedangkan via sungai memerlukan banyak waktu hitungan hari, sedangkan pesawat dalam hitungan menit ke kota tanah merah.
Peralihan kegiatan ekonomi baru perlu diarahkan dengan baik, dimana daerah baru harus dikontrol pembangunan wilayah yang berbasis lahan, masyarakat masih memerlukan lahan yang lestari dalam masa peralihan ini, sembari mereka belajar akan kehidupan baru, mereka masih tetap dapat menikmati hutan mereka seperti semula. Sedangkan pembangunan sejatinya ialah memaksimalkan potensi daerah dengan tidak menghancuran identitasnya, identiats papau yang hidup oleh hutannya harus tetap dijaga, eksplorsi sumber daya alam yang tidak ramah lingkungan harus ditunda sampai pada pemakaian alat dan pengelolaan yang ramah lingkungan. Pemerintah harus mampu mengakomodir potensi-potensi lain yang mampu mengangkat perekonomian warga, boven sebagai salah satu daerah sejarah kemerdekaan indonesia dimana ada situs sejarah penjara dan camp pembuangan dan pengasinagn Tokoh Proklamator Indonesia yairu Bung Hatta dan pahlawan nasional Syahrir, harus bisa dikekola dengan baik sebagai objek pariwisata budaya, potensi kebudayaan 5 suku boven juga mampu menarik minat wisatawan untuk melihat keunikan kebudayaan mereka, khususnya ialah kebudayaan suku koroway yaitu rumah pohon, rumah pohon memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh suku lainya dipapua. Dimana rumah tersebut biasa didirikan diatas pohon dengan ketingian 8 - 20 meter menopang dibatang pohon besar yang kuat. Pemerintah mampu mengandalkan sektor pariwisata sebagai sumber baru perekonomian masyarakat, dengan pengelolaan yang baik dengan cara yang lebih manusiawi, menghargai hutan dan kebudayaan lokal papua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar