Study kasus Suku Koroway
![]() |
| Rumah pohon, rumah adat suku koroway. |
Kabupaten Boven Digoel terletak di pedalaman Provinsi Papua yang secara letak geografis berada di bagian Papua Selatan, berbatasan sebalah timur dengan Negara Papua New Gunea (PNG), di selatan ada Kabupaten Merauke, Kabupaten Mappi dan Kabupaten Asmat di sebalah barat, serta Kabupaten Yahukimo dan Pengunungan Bintang di sebalah utara. Kabupaten Boven Digoel sendiri merupakan kabupaten baru yang dimekarkan dari Kabupaten Merauke, bersamaan dengan Kabupaten Asmat, dan Kabupaten Mappi, berdasarkan keputusan Undang-undang No. 26 Tahun 2002 yang di terbitkan pada tanggal 11 Desember 2002, sebagai tindak lanjut dari Undang-undang nomor 21 tahun 2001 tentang otonomi khusus Provinsi Papua.
Penduduk Kabupaten Boven Digoel terdiri dari 5 suku yang diakui oleh pemerintah, antara lain Suku Wambon (Mandobo), Muyu, Auyu, Kombay dan Koroway. Pada tahun 1927, saat masa pembukaan kota tanah merah oleh penjajah belanda yang di pimpin oleh Kapten L. Th. Becking, untuk pembuatan camp pengasingan bagi para pejuang kemerdekaan indoensia, di antaranya ialah tokoh proklamator kemerdekaan, Bung Hatta, saat itu hanya di temukan 3 suku yang mendiami kota tanah merah, yang saat ini menjadi ibukota kabupaten boven digoel ini, antara lain, suku muyu, suku wambon dan, suku auyu. Proses transformasi suku yang disebabkan oleh persaingan antar suku (internal suku maupun antar suku (perang suku)) yang banyak disebabkan oleh penguasan tanah adat, serta proses yang disebabkan oleh masuknya para pendatang (para penjajah dan tawanannya, dan para urban yang mengadu nasib) di kota tanah merah, yang banyak menyebabkan perubahan terhadap kebudayaan suku-suku di tanah merah. Selain berubahan terhadap kebudayaan, hal itu juga mempengaruhi akan penyebarannya. Salah satu contoh terjadi pada suku auyu, suku auyu sendiri terdiri dari 3 sub-suku, antara lain suku auyu darat yang berdomisili di bagian selatan kabupaten boven digoel bertempat di distrik fofi, suku auyu kali yang mendiami sepanjang aliran sungai digoel mulai dari distrik jair sampai distrik kouh, serta suku auyu gunung yang mendiami daerah rawa dan pengunungan bagian utara kabupaten boven digoel, yaitu di distrik kouh sampai distrik yaniruma. Suku auyu gunung ini lah yang membentuk suku koroway - kombay.
Suku koroway sendiri menempati daerah lintas kabupaten, yang terdiri dari 13 kampung, 6 distrik, dan 4 kabupaten, sebagai titik pusatnya di distrik yaniruma kabupaten boven digoel. Di kabupaten boven digoel suku koroway tersebar di distrik yaniruma, kombay, dan firiwage, sedangkan di kabupaten asmat terletak di sebelah timur distrik yaniruma, ada di distrik suator. di kabupaten mappi tersebar di distrik mbasman, terakhir di bagian utara yang merupakan daerah pegunungan masuk di kabupaten yahukimo di distrik siradela. Dalam persebaran di 6 distrik tersebut, suku koroway juga terbagi lagi menjadi 2 sub-suku, yaitu suku koroway batu dan suku koroway rawa. Suku koroway rawa menenpati daerah rawa mulai dari kabupaten boven digoel distrik yaniruma sampai ke distrik suator dikabupaten asmat, sedangkan suku koroway batu menempati bagian atas distrik yaniruma sampai ke distrik siradela di kabupaten pegunungan bintang.
Penulisan hasil observasi di kampung danowage, distrik yaniruma, kabupaten boven digoel. Sebagaimana letak persebaran suku koroway diatas, kampung danowage merupakan daerah persebaran suku koroway batu, dimana penamaanya di dasarkan pada letak geografis wilayah yang lebih banyak terdapat daerah daratan dan pegunungan dari pada rawa seperti di distrik mbasman dan suator. Secara bahasa dan adat istiadat yang membedakan antara kedua kelompok suku ini hanyalah di mayoritas mata pencahariannya, dimana di daerah koroway batu lebih banyak berkebun, dan berburu, sedangkan di daerah koroway rawa sebagai nelayan atau penangkap ikan, sedangkan dalam makanan pokok keduanya masih mengkonsumsi sagu yang banyak ditemukan di hutan.
Kampung danowage ini tak lebih dari 53 rumah, yang terdiri dari rumah penduduk, tempat ibadah (gereja), sekolah, serta bangunan bandara yang sedang dibangun saat ini. Kondisi kampung yang terdiri dari daratan, rawa dan dikelilingi oleh sungai sedang (sungai deram), dan sungai kecil yang membelah kampung menjadikan demografi perkampungan warga cukup baik, ketingian daratan dari muka air sungai mecapai 20 meter. Kebutuhan akan air bersih dapat dipenuhi masyarakat dengan memanfaatkan aliran anak sungai deram yang cukup jernih airnya. Sedangkan untuk kebutuhan perekonomian, masyarakat setempat memanfaatkan pekarangan dengan menanam berbagai jenis ubi-ubian, disamping penanaman sagu yang masih dilakukan di dalam hutan. Dalam perkembangan wilayah sendiri saat ini sedang dibangun bandara yang cukup besar, dengan rencana pembangunan seluas panjang 1600 meter dengan lebar mencapai 80 meter. Dengan pembangunan proyek bandara ini pula, penduduk mulai mengenal hal-hal baru, mulai dari macam jenis makanan, alat-alat logam, mesin-mesin, alat komuniksi, sampai informasi kemajuan dunia luar.
Interaksi penduduk lokal terhadap para pendatang menyebabkan banyak perubahan bagi masyarakat suku koroway, khususnya dalam bidang sosial dan budaya. Masuknya agama yang dibawa misionaris dan penginjil pada tahun 2005, yaitu Ainus Kogaya dari wamena, juga banyak merubah segi-segi kehidupan masyarakat suku. Sistem kepercayaan, mata pencaharian, perubahan akan rumah adat, serta pandangan mereka akan pemerintahan dan dunia luar. Masyarakat suku koroway saat ini sedang dalam masa transormasi kebudayaan, mulai dari masa keterbelakangan menuju masyarakat modern yang mengenal agama dan peradaban dunia. Namun bagaimana proses perubahan ini akan terjadi, apakah perubahan itu akan mengesampingkan identitas mereka sebagai orang suku?.
----
Pada tahun 2005, kampung danowage pertama kali berinteraksi dengan pendatang, saat itu penginjil Ainus Kogaya dari wamena memasuki kampung untuk melakukan misi keagamaan, kondisi masyarakat suku koroway saat itu masih berburu dan meramu, kebiasaan masyarakat suku pedalaman dalam menjalani kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadi maupun kelompoknya. Kondisi masyarakat suku pedalaman saat itu ditandai dengan pola persebaran penduduk berdasarkan penguasaan dan pengolahan lahan dusun masing-masing. Dusun menjadi gambaran letak kehidupan masyarakat suku, dimana mereka membangun perlindungan untuk hidup, dalam kontek ciri khas rumah pohon dan lokasi perkebunan tradisional, dengan menanam sagu, ubi-ubian, serta pisang secara nomaden mengikuti perpindahan kelompok sukunya
Rumah pohon atau rumah tinggi merupakan ciri keberadaan suku koroway, memiliki tinggi 8 - 25 meter, yang didirikan diatas pohon dengan membangun struktur rumah dimana batang pohon sebagai penyangga utama, sedang rantingnya sebagai pengikat dinding yang terbuat dari kayu yang diambil dari sekitar pohon tersebut. Dalam memilih batang pohon yang cocok digunakan sebagai tiang penyangga utama, penduduk memilih pohon yang kokoh, dan lurus, serta memiliki percabangan yang banyak pada sisi kanan dan kiri pohon guna pengikat pada tiang dan dinding rumah, walaupun disebutkan jenis pohon besi dan kasuari sebagai pohon yang kuat, namun penduduk mensyaratkan kekokohan pohon sebagai pertimbangan utama dalam memilih pohon yang digunakan sebagai penyangga rumah. Sedangkan dalam kebiasaan adat, rumah tertinggi hanya diperuntukan untuk ketua suku, hal ini mengacu kepada tanggung jawab ketua suku, guna pengawasan medan dalam mengantisipasi serangan suku lainnya, yang lazim terjadi karena permasalahan pelanggaran akan tanah adat.
Masuknya misi keagamaan yang mendorong masyarakat untuk hidup sacara berkelompok, pertama di karenakan untuk mempermudah pengajaran terhadap masyarakat suku oleh penginjil, yang kedua karena unsur keamanan. Dengan hidup berkelompok masyarakat lebih kuat dan suku lain segan untuk menyerang. Dengan semakin banyaknya masyarakat suku yang berkumpul dalam satu titik, serta guna mempermudah pengajaran terhadap layanan keagamaan maka penginjil mendirikan rumah panggung bagi penduduk, dimana ciri rumahnya memiliki persamaan dengan rumah pohon yaitu lantainya yang sama terbuat dari kayu, khususnya kayu nibung. Kehadiran rumah panggung ini menjadikan suatu kelompok baru dalam struktur masyarakat suku koroway, keberadaan rumah pangung sebagai basis layanan keagamaan serta perlindungan dari serangan suku lainnya, dikemudian hari berkembang menjadi perkampungan. Sedangkan rumah pohon sebagai identitas suku koroway masih tetap ada, namun hanya diigunakan sebagai basis perekonomian yang terletak didusun atau di lahan perkebunan didalam hutan, ditenpat yang berbeda dengan kampung.
Kehadiran rumah panggung dalam budaya suku koroway ini ialah salah satu dari sekian akulturasi budaya yang diserap oleh penduduk tempatan terhadap kebudyaan yang datang dari luar, kehadiran penginjil dan para misionaris di kampung danowage memberikan perubahan-perubahan dalam kehidupan sosial budaya masyarakat suku koroway. Pengetahuan tentang keagamaan memberikan pandangan bagi mereka untuk hidup dalam kebersamaan dan kasih, bersama-sama, bahu-membahu membentuk masyarakat yang saling tolong-menolong. Kebersamaan dalam satu kelompok masyarakat kampung ini pula menimbulkan suatu kebutuhan ekonomi baru yang perlu dipenuhi oleh setiap orang, penginjil dan misionaris perlu memperhitungkan bagaimana cara menghidupi masyarakat dalam kampung. Peluang-peluang ekonomi baru dikembangkan, mulai dari perkebunan, peternakan, penangkapan ikan mengunakan alat jaring dan molo, di samping juga masih mengantungkan pencarian makanan dengan berburu binatang hutan, babi maupun kaswari yang masih banyak ditemukan di dalam hutan.
![]() |
| Sungai Digoel yang membelah belantara papua selatan kab. boven digoel |
Semakin meningkatnya kebutuhan penduduk akan ekonomi, kesehatan, serta pendidikan yang dikenalkan oleh para penginjil, membuka ruang baru bagi penginjil untuk membuka isolasi kampung ini, memasukan lebih banyak lagi akses-akses keekonomian, transportasi, kesehatan dan pendidikan di kampung danowage. Kondisi kampung waktu itu masih hutan belantara, terdiri dari daratan dan rawa yang membentang sepanjang kampung, saat itu tak lebih dari 21 rumah 57 kepala keluarga serta 186 jiwa penduduk yang tersebar sepanjang kali deram. Dengan pendekatan dan pengenalan akan kemajuan kampung, penginjil dan misionaris dapat membuat tetua suku Bapak, Yawof Aumanop menyumbangkan tanahnya untuk pembangunan sarana-rasarana umum (selama ini permasalahan penguasaan tanah telah menjadi sumber komflik disetiap suku pedalaman papua, maka suatu keihklasan dan kesadaran yang sanggat baik telah dilakukan oleh masyarakat koroway), diantara pembangunan yang dilakukan ialah pembangunan landasan helikopter (saat ini telah menjadi bandara danowage) untuk akses transportasi yang digunakan untuk pengangkutan logistik dan penanganan pasien ke rumah sakit di kota tanah merah atau jayapura.
Semakin terbukanya kampung danowage bagi khalayak umum, yang disebabkan oleh aktifnya promasi wilayah yang dilakukan oleh penginjil dan misionaris mengenai kondisi kampung dengan keterbelakangan penduduknya, hal ini pula banyak mengerakkan kegiatan-kegiatan kemanusiaan oleh masyarakat papua di kota, berbagai aktivitas kegiatan kemanusian, diantaranya pengumpulan bantuan logistik dan bantuan pakaian layak pakai, misalnya yang dilakukan oleh para guru-guru dari Persatuan Guru Republik Indonesia kabupaten boven digoel. Mulai dikenalnya kampung danowage sebagai daerah suku koroway batu perlahan membuka perhatian pemerintah akan kondisi masyarakatnya, keterbelakangan penduduknya, maraknya wabah penyakit serta kondisi lingkungan yang tidak sehat. Bentuk-bentuk kepedulian pemerintah antara lain ialah penyaluran logistik dan pemberian kebutuhan pokok, diantaranya ialah beras sebagai makanan baru bagi penduduk suku koroway. Selain itu pula penugasan-penugasan kader kesehatan di puskesmas pembantu bekerja sama dengan Mr. Trevor Jonshon selaku misionaris dan juga dokter yang bertugas disana. Namun, inkonsistensi pemerintah masih sering terjadi, beberapa kali pengiriman logistik dan layanan kesehatan terputus, sulitnya transportasi yang hanya bisa dilalui melalui udara serta tidak adanya jaringan komunikasi ke kota menjadi salah satu alasan kedua belah pihak. Sehingga suatu ketika, masyarakat mengisialisasi kunjungan ke ibukota kabupaten tanah merah dengan berjalan kaki, selama hampir 2 bulan lamanya. Walaupun jika mengunakan angkutan udara saat ini hanya memnbutuhkan waktu 20 menit saja. Kebutuhan masyarakat ini hendaknya perlu di utamakan, namun ketidakseriusan pemerintah ini juga disebabkan oleh kepentingan serta kondisi politik, perhatian pemerintah biasanya baru mereka rasakan terutama menjelang agenda politik daerah, saat pemilu kepada daerah.
![]() |
| Gereja GIDI di danowage |
Masuknya pemerintah di kampung danowage mulai dirasakan penduduk, perencanaan pembangunan sarana dan prasarana umum mulai rancang, namun keputusan yang cukup mengejutkan ialah pemabangunan bandara danowage yang telah dimulai pada tahun 2010, ternyata tidak di dahului oleh pembangunan sarana pokok tentang kesehatan, pendidikan dan transportasi khususnya sungai (perahu atau ketingting) terlebih dahulu. Pembangunan bandara seluas 1600 x 80 meter ini seperti dipaksakan, bagaimana tidak! dimana kondisi masyarakat masih belum siap menerima perubahan-perubahan sosial dan budaya, dalam segi komunikasi penguasaan bahasa indonesia yang masih sanggat lemah, malah banyak orang tua yang tidak bisa berbahasa dan masih mengunakan bahasa suku.
Perencanaan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah cenderung tidak aspiratif terhadap kondisi penduduk, peletakan pondasi dasar kemasyarakat tidak di lakukan terlebih dahulu, kebutuhan pokok akan kesehatan, pendidikan dan ekonomi masih terbengkalai harapan pemerintah dalam membuka akses publik masuk ke kampung danowage tidak di imbangi dengan pengawasan yang baik. Selain dari penduduk yang masih gaptek (gagal teknologi) terhadap hal baru yang dibawa oleh para pendatang (pekerja proyek), penduduk suku koroway ini juga masih belum mengerti berbagai jenis pekerjaan dan cara kerja pada pembangunan proyek bandara, masyarakat hanya di pekerjakan dalam mengumpulan batu dan kayu saja, selebihnya semua pekerjaan material dilakukan oleh para pendatang.
![]() |
| Sekolah Lentera Harapan Danowage, satu-satunya sekolah bagi anak kampung koroway batu. |
Niat pembangunan yang di lakukan oleh pemerintah akan wilayah kampunng danowage, khususnya bagi suku yang baru mengenal peradaban dunia ini cenderung terkesan menjadikannya sebagai objek pembangunan, keterbelakangan mereka dijadikan alasan pembangunan bagi sekelompok orang untuk mendapatkan proyek. Keunikan suku koroway dengan rumah pohonnya dijadikan objek pariwisata yang prematur, dimana banyak ditemukan rumah pohon di sekitar bandara namun keberadaanya tidak dirawat serta aktiviats kebudayaan suku juga tidak di lakukan lagi semenjak pembangunan bandara tahap 1 selaus 800 x 40 meter dilakukan 2012 lalu. Sedangkan pembangunan gedung bandara sama sekali tidak ada yang mengandung unsur kearifan lokal, dari segi desain bandara maupun banguna-bangunannya. Rumah pohon sebagai ikon kebanggaan suku koroway di acuhkan begitu saja. Sedangkan warga suku terbuai dengan harapan-harapan kemajuan.
Harapan masyarakat suku koroway akan kemajuan kampungnya tidak lah muluk-muluk, baginya ialah terbukanya akses transportasi udara maupun sungai untuk mempermudah aliran barang dan jasa, adanya pendidikan dikampung, serta layanan kesehatan yang memadai bagi penduduk yang merupakan kebutuhan pokok hidup, itu amatlah sederhana, dan sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ini. Namun dengan kepolosan masyarakat yang baru mengenal dunia luar ini, pengacuhan mereka terhadap kebudayaan-kebudayaan suku tidaklah dianggap serius. Impian warga untuk dapat setara dengan daerah lain menutupi pentingnya menjaga kelestarian akan budaya mereka sendiri. Pengacuhan terhadap kebudyaan ini, bukan hanya ketidakpedulian pemerintah akan pentingnya penjagaan kebudayaan di negara yang berbhineka, satu-satunya terkompolek didunia. Ketidakpedulain masyarakat terhadap kebudayaannya sendiri di tandai dengan semakin sedikitnya keenganan mereka merawat rumah adatnya, rumah pohon yang sedianya dijadikan objek wisata dan simbolitas suku koroway yang ada di sekitar bandara dibiarkan rusak begtu saja, serta banyaknya produk kebudyaan yang dijual kepada para turis, misalnya busur panah, kapak batu, kapak sagu, yang memiliki nilai sejarah tidak di simpan dengan baik. Pengajaran terhadap bahasa ibu terhadap anak-anak suku juga belum bisa dilakukan di sekolah danowage yang baru berdiri sebulan terakhir (terhitung awal september 2017), ketidakadaan guru yang mempu mengajar bahasa suku menjadi kendala yang hampir terjadi di seluruh kabupaten boven digoel ini. Dengan realitas kombinasi yang apik antara pemerintah dan warga (karena ketidakpahaman mereka akan pentingya penjagaan kebudayaan dan obsesinya akan kemajuan daerah) dalam mengacuhkan unsur budaya dalam kehidupan sehari-hari, akan terjadi pelan namun pasti sejarah suku koroway akan hilang seperti yang terjadi pada suku lainya, dan semakin terpinggirkannya penduduk asli oleh para pendatang seperti yang terjadi di merauke maupun kota tanah merah.
Pencegahan terhadap pembangunan-pembangunan yang nir-historis warga tempatan harus segera di lakukan, perencanaan akan kekhasan setiap wilayah suku-suku dipapua perlu dilakukan sesegera mungkin, sebelum semakin jauh hilangnya identitas-identitas suku dipapua yang terdiri dari 250 suku bahasa. Suku koroway sebagai salah satu kelompok suku yang memiliki kekhasan rumah adat (rumah pohon) perlu terus dilestarikan. Upaya-upaya pembangunan yang merekognisi nilai-nilai budaya lokal dapat dilakukan dalam 2 upaya, yang pertama melalui perencanaan pembangunan fisik dan perencanaan pembangunan non-fisik. Perencanaan pembangunan non fisik merupakan awal yang mendasari setiap pemgambilan kebijakan pemerintah dalam pembangunan didaerahnya. Pembangunan daerah yang berkebudayaan dalam bidang non fisik ialah melalui pembuatan undang-undang daerah dalam kuasa otonomi khususnya, kebijakan stategis serta dalam program-program kerja pemerintah dengan memasukan unsur-unsur adat, budaya, dan kearifan lokal daerah. Terutama dalam segi pendidikan, dimulai dari pendidikan dasar, pengenalan terhadap kebudayaan lokal, mulai dari jumlah suku, jenis tarian, macam-macam upacara, produk-produk kebudayaan yang berkaitan dengan mata pencaharian, maupun kepercayaan nenek moyang mereka. Pemberian beasiswa pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi.
Pemerintah juga perlu memberikan pengarahan dan kepastian masa depan bagi mahasiswa, pengarahan terhadap pentingya kebergaman para sarjana di berbagai disiplin ilmu, sehingga para mahasiswa papua tidak menumpuk di bidang studi pemerintahan saja, sebagaimana harapan mereka untuk masuk menjadi pegawai negeri sipil. Kebijakan pemberian beasiswa ini juga harus mampu memenuhi segala lini ilmu pembangunan, diantaranya ialah perikanan dan peternakan, perkebunan, serta pertambangan dimana melimpahnya sumber daya alam di papua ini, khususnya batubara dan emas di area adat suku koroway. Suatu permasalahan dasar tentang efektiviats pendidikan yang mengacu kepada kelestarian budaya lokal ialah tidak di rekogisinya nilai-nilai budaya dalam pengajaran sekolah, terutama di sekolah dasar. Buku-buku ajar mengacu kepada standart nasional yang sanggat sedikit sekali muatan lokalnya, perbedaan geografi antara papua dan jawa misalnya, didalam buku ajar anak-anak diajarkan tentang memasak dan bertani, sedangkan kedua hal itu tidak pernah mereka jumpai di keluarga mereka. Kebaruan siswa sekolah dasar mengenal dunia luar melalui pengambaran moderenitas jawa misalnya, membuat siswa menganggap kebudayaanya terbelakang. Pembelajaran pada tingkat dasar ini juga sulit dicerna karena perbedaan budaya ini, pada tingkat dasar pendidikan ini hendaknya para siswa dikenalkan akan budaya lokal, untuk menumbuhkan cinta terhadap budayanya sendiri. Seperti apa yang disampaikan I Ngurah Suryawan dalam buku Papaua Vs Papua.)
Yang kedua ialah perencanana pembangunan berkebudayaan melalui eksistensi simbolitas budaya lokal, rumah pohon sebagai ikon suku koroway harus di masukan dalam setiap desain bangunan, bandara danowage sebagai akses utama masuknya para pendatang maupun wisatawan haruslah mencerminkan kebudayaan suku koroway, selain itu pemerintah berkewajiban mendorong kesadaran penduduk akan pentingya identitas mereka, mendirikan serta mengaktifkan sanggar-sanggar budaya, meningkatkan kegiatan perekonomian melalui pengembangan ekonomi kreatif berbahan lokal, serta mempromosikan kebudayaan dengan mengadakan berbagai acara kebudayaan yang dapat di akses oleh publik.
------
Keberadaan suku koroway yang ada di kabupaten boven digoel, merupakan suatu kelompok suku yang sanggat menarik dalam kajian kesukuan. Perhatian pemerintah terhadap keberadaan dan perkembangan masyarakat suku perlu diutamakan, kebutuhan akan kesehatan, pendidikan, dan perekonomian yang didukung sistem transportasi yang baik menjadi kunci pengentasan keterbelakangan dan mempercepat kesejahteraan penduduk. Pemerintah perlu memperhatikan proses transformasi kebudayaan yang terjadi, dengan semakin terbukanya hubungan dengan dunia luar, serta semakin mudahnya akses komunikasi, perhatian terhadap belum siapnya masyarakat untuk memilah mana yang baik dan buruk dari informasi yang didapat, namun masyarakat akan cenderung meniru hal-hal yang menurut mereka menarik.
Pembatasan akses komunikasi disertai penyuluhan terhadap masyrakat suku yang baru mengenal dunia luar, sekiranya memang harus dilakukan, melalaui pengajaran di sekolah, gereja, maupun penyuluhan oleh pemerintah di tempat umum. Namun jika melihat dari kesiapan setiap komponen (pemerintah maupun para pemuka agama) dalam upaya membendung proses transformasi kebudayaan ini, maka sejujurnya masyarakat belum lah siap untuk menerima akses teknologi komunikasi. Masyarakat pada tataran ini lebih membutuhkan pendidikan yang lebih intens, kecukupan kebutuhan ekonomi dan layanan kesehatan yang mudah. Hingga pada waktu moral mereka cukup kuat, maka transformasi yang di khawatirkan dapat berjalan dengan baik, masyarakat tetap memegang teguh nilai-nilai kearifan lokalnya.
Merekonstruksi rencana pembangunan yang bermuatan lokal, haruslah partisipatif. Keberadaan lembaga masyarakat adat sebagai wakil dari berbagai suku yang ada di kabupaten boven digoel, harus dioptimalkan peran dan fungsinya sebagai penjaga dan pelestari budaya. Pembangunan yang mencerminkan kearifan lokal budaya, harus diperhatikan. Pembangunan fisik meliputi sarana dan prasarana umum sudah harus dapat mencerminkan kekayaan budaya. Dalam segi pariwisata pemerintah dapat sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat melalui acara festival budaya yang dapat mendatangkan para wisatawan, namun hal yang perlu diperhatikan ialah sudut pandang modern sekarang ini, orang papua tidak boleh dipandang sebagai object budaya yang masih terbelakang, sajian-sajain kebudayaan yang ditampilkan harus lah disesuikan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab dan berperasaan.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar