MASYARAKAT DESA BERGAYA KEKINIAN
Posong bukan pocong, seperti mindset kita jika merenungi sejenak kata dari sebuah nama wilayah yang terletak di daerah wonosobo ini. Keindahan daerahnya tentu tak seperti kuburan yang sepi dan menakutkan jika memaknainya dalam alam bawah sadar kita akan kata baru yang kita kenal ini yang lebih mirip hantu ikonik bernama pocong. Hijau, berkabut, sejuk dan memiliki landscape dari 8 gunung yang indah, menjadikan kita semakin tertarik meniliknya, seperti apakah posong itu? Dan lagi semua mafhum sekalian, masyarakat desa jawatengah yang ramah dengan rasa kekeluarganya yang tinggi akan selalu membuat kita merasa berada dirumah sendiri. Posong kini, masyarakat desa bergaya kekinian.
Terletak di kaki gunung sindoro dan juga berdekatan dengan gunung sumbing disebalah kanan arah wonosobo - temanggung, jalan lintas daerah tersebut yang seakan membelah dua gunung ini, seakan kita merasa memori semasa anak-anak kembali lagi, saat menggambar semasa sd, kita sanggat menyukai sekali gambar 2 gunung berdampingan, dengan jalan berada ditengah serta matahari yang muncul dari celah 2 gunung ini, itulah kenyataan dari memori gambar yang pada kenyataanya juga sanggat indah diliat, dua gunung yang mengambarkan kindahan, kesejahteraan serta kemakmuran warga sekitar pegunungan.
![]() |
| Sumber : http://temanggung.dosen.unimus.ac.id/pariwisata/gunung-kembar-sindoro-dan-sumbing |
Memanfaatkan lahan daerah di kaki gunung yang subur masyarakat sudah barang tentu dapat menanami lahannya dengan berbagai macam sayuran, bukan hal baru seperti yang kita lihat didaerah lainnya. Demografi lahan yang berbukit, lembah yang tentu saja bukan hanya indah yang selalu menjadi daya tarik para pengunjung, posong memiliki warna baru bagi para petani daerah pegunungan pada umumnya, penanaman kopi di lahan pertanian yang bukan sekedar tumpang sari membuat kita bertanya, apakah kopi bagi masyarakat desa ini sudah cukup potensial untuk dapat menganti komoditas sayuran sebagai sumber pendapatan mereka?
![]() |
| Sumber : https://rynari.wordpress.com/2014/06/23/pesona -posong-panorama-gugus-gunung/ |
Keyakinan masyarakat akan sektor perekonomian baru pengelolaan kopi tak bisa di jauhkan dari kepedulian dari pemerintah daerah yang mampu melihat potensi daerah, serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan peluang sektor ekonomi baru yang dapat dikembangkan. Terlebih penanaman kopi bagi petani jauh lebih mudah dalam perawatannya, lebih efisien dalam biaya dibanding sayuran yang memerlukan pengolahan dan perawatan yang berulang setiap kali mulai masa tanam. Pemerintah sendirinya juga sadar akan kekurangan dalam satu objek destinasi khususnya dalam dunia kuliner yang sedang berkembang kini, suatu kombinasi yang sempurna bagi suatu wilayah yang memiliki berbagai potensi alam dan budaya, guna mewujudkan kepariwisataan yang terpadu. Wonosobo yang sudah terkenal mimiliki wisata alam gunung, budaya berupa candi, tentu dengan hadirnya kopi ini melengkapi sisi dunia kuliner, seperti sudah kita kenal mereka juga memiliki konsep pemasaran yang sudah mendunia dalam festival budaya dieng.
Minum kopi memang sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang, bagi mereka yang pada umumnya yang menjadikan kegiatan minum kopi sebagai perantara pengikat hubungan sosial. Semua lapisan masyarakat tak kenal kelas sanggat menyukai kopi, dinamika sekarang cara menikmati kopi dapat menentukan kelas seseorang, dengan makin meluasnya pengetahun tentang jenis kopi serta hadirnya teknologi penyaji kopi yang disesuaikan dengan jenis dan pelbagai rasanya. Hal ini pula yang di sadari oleh masyarakat desa Tlahab, kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung. Seperti apa yang di ucapkan Mas Bagus salah seorang pemuda pemandu desa wisata posong “lahirnya kopi yoo sebabe siji wong kene seneng ngopi, kelorone memang ada penyuluhan sekang pemerintah masalah nanem, mengolah, sampai pemasarane”. kesadaran bersama melihat peluang sektor ekonomi baru ini menjadikan desa tlahab masyhur kan kopinya sebagai salah satu daerah penghasil kopi di temanggung.
Wisata alam disekitar kaki gunung sindoro, sumbing maupun prau dieng sudah menjadi suatu kemutlakan akan keindahan yang didapat oleh para pengunjungnya, destinasi wisata gunung, maupun bukit, kawah serta budaya dalam komplek candi arjuna sudah sanggat dikenal publik. Sudah bukan hal baru jika kita bahas disini, namun dari sisi penulis hal yang berbeda ialah perilaku masyarakatnya, masyarakat jawa tengah sudah sanggat terkenal akan kesederhanaan, keramahan, serta budaya gotong royong. Desa sebagai basis perekonomian masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani secara tidak langsung memang membentuk struktur serta nilai-nilai hubungan sosail yang saling terikatan dan ketergantungan, dimana letak desa yang jauh dari akses ekonomi modern membuat masyarakatnya harus saling bahu-membahu serta tolong menolong dalam memenuhi kebutuhan sesamanya. Salah satu contohnya ialah tidak adanya lembaga kredit modal, membuat masyarakat dalam memenuhi modal pengarapan lahan harus saling meminjam dari tetangganya yang memiliki modal (benih) yang sama, dalam pengarapan lahan misalnya juga, kefokusan mereka yang hanya sebagai petani dalam mengarap lahan membuat kelompok masyarakat dalam mempersiapkan lahanya secara berkelompok dan bergantian satu sama lain. Nilai-nilai kearifan lokal inilah yang menjdikan hubungan sosial masyarakat desa sanggat erat dan keterkaitan. Dengan masuknya pemerintah sekarang ini memang membuat beberapa desa memiliki alternative permodalan dari lembaga kredit resmi maupun muculnya rentenir, serta lahirnya teknologi juga membuat masyarakat memiliki alternative pengolahan lahan yang jauh lebiuh efektif dan efisien. Namun hal ini lah yang jadi masalah dewasa ini, kemudahan-kemudahn yang membantu mereka dalam pekerjaan sebagai petani secara mandiri mengaburkan nilai-nilai kearifan lokal yang ada, hilangnya sikap saling keterikatan, saling membantu akibat kemudahan-kemudahn yang ada saat ini, masyarakat cenderung individual serta berlomba menumpuk harta, seakan kini tak ada bedanya dengan dikota, model perekonomian kapilalistik dengan tidak adanya nilai kekeluargaan menolong tetangga-tetangga didalam struktural masyarakat desa.
Nilai-nilai kearifan lokal dan budaya masyarakat pedesaan memang harus terus dilestarikan, sebagai identitas masyarakatnya yang memiliki hubungan sosial yang berbasis gotong royong. Nilai itu dapat dijaga melalui kesadaran masyarakatnya dalam membentuk cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam hal pengelolaan lahan agar lebih produktif, perubahan peradaban zaman tak bisa ditolak, namun keberadaan masyarakat desa yang jauh dari akses kekuasaan dan kadang sulitnya transportasi menuju tempat-tempat sentra ekonomi dan politik membuat masyarakatnya harus bersatu, bahu-membahu memenuhi kebutuhan masing-masing. Maka upaya pemkab temanggung dalam menangkap sumber-sumber ekonomi baru dengan tetap memperhatikan nilai-nilai lokal ini dipandang sanggat tepat dan bergaya kekinian, pemberdayaan masyarakat desa dengan meningkatkan kesadaran bersama akan kebutuhan perekonomian, kemajuan zaman dan teknologi serta, solusi dalam membentuk ikatan sosial antara masyarakt desa dan dunia luar melalui agenda festival budaya ini sanggat tepat.
Peran pemerintah dalam memberikan ruang publik kepada masyarakat untuk menampilkan hubungan emosianal sosial antar sesama penduduk, penghargaan akan kebudayaan tempatan, serta meningkatkan pendapatan dengan memaksimalkan potensi wilayah, semua ini di padukan dalam suatu acara yang dapat menumpahkan semua dinamika tersebut, dalam suatu acara pesta yang menampilkan semua unsur wisata, ekonomi dan budaya dalam satu ruang yang sama. Inti dari keberhasilan pemerintah ini ialah merekognisi nilai-nilai budaya tempatan, mengali potensi wilayah serta memberikan akses pemasaran ke dunia dalam mengenalkan segala hal yang dapat menjadi potensi ekonomi dan meningkatkan kebanggan penduduk akan identitas wilayahnya.
Disisi lain, moderenitas yang hadir ditengah-tengah masyarakat kini harus diantisipasi segala hal yang dapat membawa dampak negatif, pemerintah harus dapat melihat upaya akulturasi budaya dari pada tinginya itensitas hubungan masyarakat dengan dunia luar, polarisasi nilai nilai kemasyrakatan dengan semakin tinginya perputaran uang membuat masyrakat lebih konsumtif, tinggiya perputaran uang bagi daerah yang memiliki potensi ekonomi seperti kabupaten temanggung ini jangan sampai membuat sikap individu masyarakatnya menjadi kapitalistik, dimana hal ini dapat melahirkan struktur masyarakat baru yang individualis, mencintai kemewahan. Tinginya perputaran uang juga akan semakin membuat naiknya nilai barang dan jasa, namun desa sebagai suatu entitas kelompok masyarakat yang mengedepankan nilai-nilai sosial kemasyarakat dan gotong royong harus mampu mencegah hal tersebut, karena setiap warga desa belum tentu memiliki lahan dan sumber perekonomian. Desa biarlah menjadi rumah bagi kebersamaan, dan lagi-lagi pemerintah sebagai penentu kebijakan politik harus mampu mengarahkan dan membimbing masyrakat desa agar dapat menjaga nilai-nilai budaya dan memanfaatkan kemajuan untuk meningkatkan produktifitas guna kemakmuran bersama.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar