Kamis, 22 Maret 2018

Tuhanku, aku dikala sadar.



Perubahan perubahan yang dihasilkan dari kegiatan yang terencana dengan baik dan terstruktur ialah merupakan pencapaian yang signifikan dari suatu proses pencapaian tujaun, tidak ada garis finish dimana tujaun itu akan berhenti, perubahan-perubahan yang diinginkan secara bertahap muncul seiring tujuan yang ditetapkan secara berkala menyesuaikan kondisi dan tantangan zaman. Tujuan yang bersifat makro dirancang sebagai sesuatu yang idealis, sesuatu yang akan membawa pengaruh pada bagian-bagiannya atau mikronya. Maka penetapan konsepsi tujuan hendaklah harus disesuaikan juga dari aspirasi-aspirasi mikro, agar apa yang menjadi tujuan ialah merupakan keinginan bersama, perwujudan konsep kebersamaan dalam kehidupan.
Pengerak perubahan berawal dari kesadaran terhadap keadaan yang masih belum maksimal dalam memanfaatkan energi-energi yang ada, gerakan-gerkan perubahan yang dilakukan merupakan suatu bentuk perlawanan terhadap belenggu-belenggu yang mengikat energi, contoh energi yang berupa konsepsi (pemahanamn) sistem masyarakat misalnya, suatu pengelompokan masyarakat yang sengaja di munculkan berdasarkan nilai-nilai keuntungan pribadi seperti penciptaan perumahan berbasis komplek, penciptaan-penciptaan yang hanya memetingkan kepentingan ekonomi, penimbunan harta. bagaimana sebenarnya hal itu merupakan kesesatan berfikir, satu dari sekian alternative yang digunakan dalam menarik minat pembeli yang memiliki kesamaan berfikir sesat dalam mementingkan kepentingan pribadinya, hidup nyaman dalam perspektifnya, kenyamanan dalam pemahaman sendiri, kehaniefan sesat yang menyalahi aturan manusia sebagai mahkluk sosial yang suka bermasyrakat.
Makna kebebasan harus dimaknai dengan pemilihan solusi yang dinamis dan bertanggung jawab, tanggung jawab akan pentingnya menjaga nilai-nilai sosial, nilai nilai sosial yang memandang kesamaan setiap manusia, penghargaan terhadap setiap perbedan dari setiap jiwa, pertanggungjawaban universal individu terhadap sistem masyarakat yang sesuai nilai kemanusiaan, menjaga kehaniefan manusia untuk tetap sesuai sifat ketuhanan yang adil pada diri sendiri maupun lingkungannya.
Kemampuan paham manusia sebagai makhluk kebanggan tuhan yang dibelaki pola pikir yang sistematis, sistematis dalam menilai manfaat dan dampak dari setiap pilihan keputusannya. Tak perlu repot mencari siapa dirimu yang benar dalam bimbingan tuhan, walau mungkin itu klaimisasi kebenaranmu. Namun menjadi hanief ialah sadar akan kemanusiaanmu, yang hidup karena makan dan minum, yang hidup baik karena dibekali akal dan pikiran, yang memiliki energi pengerak berupa nafsu yang fluktuatif. Kesemuannya yang dinikmati dengan keterbatasan sehingga dapat dinikmati pada rentang waktu yang diukur mengunakan kesadaran. Tuhan mungkin tak perlu repot mengeluarkan firman seandainya sebagaian besar kita bersikap layak, layak untuk di katakan sebagai manusia yang berfikir, yang sadar pada keterbatasan dan kemampuan pelampauannya, yang mengerti bagaimana menikmati nikmatmu sendiri maupun nikmatnya sebagai nikmatmu. Apakah tuhan usil ketika menjadikan sebagain kecilnya bodoh, walau kata bodoh itu tak ada andai yang tak tahu tetap mengikuti kata hatinya (hanief). Namun sayangnya, mungkin sebaliknya sebagian besar itu tak memahami, dan sebagian lainya yang sanggat sesat ialah mereka yang paham dan tak mau memahaminya.
Ini ialah Essai Energi, menurutku. Jadi ikutkan saja, jika kau cukup memgerti kebodohanku.

Selasa, 13 Maret 2018

Jaga hutanku Lestarikan Kebudayaan Indonesia


Salah satu suku di Papua ini ialah suku yang terakhir di temukan di daerah boven digoel, suku koraway batu, dari marga besarnya suku koraway, dimana saudaranya suku koroway rawa yang berada dibagian selatan distrik yaniruma yang diantaranya masuk daerah kabupaten mappi dan asmat. Suku koroway dapat dikatakan memiliki sentral dikampung danowage didistrik yaniruma kabupaten boven digoel, dari ke-lima suku yang ada di kabupaten boven digoel yaitu suku mandobo, suku awuyu, suku muyu, suku kombay dan suku koroway, suku koroway termasuk suku terakhir yang baru dikenal publik, kampung danowage sendiri baru dibuka tahun 2005 oleh pendeta Ainus Kogaya, sehingga perubahan-perubahan sosial budaya masih dalam tahap peralihan saat ini (september 2017), suku koroway memiliki ciri khas yang sanggat ikonik yaitu rumah tinggal mereka yang berda diatas pohon, kita biasa menyebut rumah pohon.
Dalam masa peralihan kehidupan sosial budaya masyarakat suku pedalaman ini masih sanggat bergantung kepada hutannya yang masih sanggat terjaga, ketergantungan konsumsi mereka akan sagu, ubi-ubian, pisang serta hasil buruan berupa babi, kaswari maupun tangkapan ikan di sungai deram, semua itu masih mudah didapatkan saat ini. Hutan yang terjaga memberikan kehidupan bagi masyarakat, maka tidaklah heran bagi mereka hutan meruapkan bagian dari separuh jiwa masyarakat suku koroway, umumnya juga masyarakat papua yang selama ini hidup diantara lembah, gunung maupun rawa-rawa papau. Hutan dalam keyakinan suku koroway juga memiliki arti yang sanggat penting, dalam dokumen yang ditemukan pada didistrik mandobo kampung sokanggo, terdapat gambaran jelas bagaiman penciptaan alam semesta dimana pohon menjadi bagian penting dalam awal mula kehiupan bumi ini. Maka tidaklah heran penjagaan hutan oleh kelima suku yang ada sanggat penting, hubungan kelima suku jika di telisik hanya da 3 suku induk yaitu, suku awuyu, suku mandobo/wambon, dan suku muyu, sedangkan suku koroway dan kombay menurut literatur yang ada disejarah boven merupakan sub-suku awuyu gunung, satu dari 3 kelompok suku awuyu yaitu gunung, darat dan kali. Atas dasar kesadaran masyarakat akan ketergantungan kepada kelestarian hutan inilah masayrakat suku berbondong-bondong menolak isu pembangunan perkebunan sawit baru-baru ini yang mereka duga akan merusak ekosistem hutan, hilangnya air, hilangnya binatang buruan, ikan, hilangnya sagu sebagaimana hanya itulah sumber kehidupan mereka secara turun temurun.
Dinamika otonomi khusus papua memang memberikan dampak bagi semua segi kehidupan masyarakat papua, kesempatan yang diberikan pemerintah pusat kepada masayrakat papua untuk membangun wilayahnya sendiri sesuai kearifan lokal papua berjalan dengan baik, segi pemerintahan dan pengelolaan daerah setidaknya memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat papua sendiri, hal itu yang memang menjadi hak mereka. Namun implikasi dari pembangunan adalah munculnya ekplorasi-ekplorasi lahan daerah yang dimanfaatkan guna mengisi ruang perekonomian sebagai sumber pendapatan daerah, hal ini memang tidak terelakan lagi. Pembangunan yang memakan lahan, membelah hutan, menebang pohon yang juga tak sedikit jumlahnya. Guna meningkatkan PAD tentu pemerintah tidak dapat mengandalkan dari biaya apbd yang ada untuk mengadakan sumber-sumber ekonomi baru bagi daerah, maka memang sudah menjadi wajar pemerintah membuka ruang investasi bagi para investor yang ingin menanamkan modalnya dipapua, khususnya di boven digoel daerah pemekaran baru pada tahun 2004 ini dari kabupaten induk kabupaten merauke. Spesifikasi pembangunan wajibnya pemerintah mengambil peran yang  signifikan, pembangunan apa yang cocok diterapkan didaerah yang masyaraktnya masih bergantung kepada hutannya, peralihan kepada perkebunan sawit bukanlah merupakan jawaban yang bijaksana, daerah yang lebih banyak rawa-rawa ini memang cocok untuk di tanami sawit, namun akan memiliki dampak yang cukup besar terhadap keberadaan air, sebagaimana sumber air dari sungai digoel yang menghidupi masyarkat boven digoel karena terjaganya ekosistem hutan itu sendiri. Masyarakat lebih menyukai perkebunan karet, sebagaimana pengakuan warga suku awuyu di kampung ampera distrik mandobo mengatakan “kami takut sawit yang akan dibangun nanti akan mengambil air kami dari hutan, nanti su tada air hutan kami mati, air sungai kami kering, kalau su begitu nanti kami makan apa, sedang kami tak ada yang bisa berkebun, tapi kalau karet memang su banyak dihutan kami, tapi kami bingung jual kemana”.
Perubahan-perubahan perekonomian memang tak dapat dielekan, dengan semakin mudahnya akses trasportasi sungai maupun udara, berbagai barang konsumsi maupun bangunan masuk mempercepat pembangunan wilayah diboven digoel, hal ini seperti menjadi bom waktu bagi masyarakt suku pedalaman yang baru mengenal bahasa maupun pakaian, kondisi suku koroway jauh lebih memprihatinkan, berbeda dengan kampung lainya di boven, akses trasnporatsi ke danowage hanya dapat ditempuh cepat dengan pesawat capung maupun helikpoter, sedangkan via sungai memerlukan banyak waktu hitungan hari, sedangkan pesawat dalam hitungan menit ke kota tanah merah.
Peralihan kegiatan ekonomi baru perlu diarahkan dengan baik, dimana daerah baru harus dikontrol pembangunan wilayah yang berbasis lahan, masyarakat masih memerlukan lahan yang lestari dalam masa peralihan ini, sembari mereka belajar akan kehidupan baru, mereka masih tetap dapat menikmati hutan mereka seperti semula. Sedangkan pembangunan sejatinya ialah memaksimalkan potensi daerah dengan tidak menghancuran identitasnya, identiats papau yang hidup oleh hutannya harus tetap dijaga, eksplorsi sumber daya alam yang tidak ramah lingkungan harus ditunda sampai pada pemakaian alat dan pengelolaan yang ramah lingkungan. Pemerintah harus mampu mengakomodir potensi-potensi lain yang mampu mengangkat perekonomian warga, boven sebagai salah satu daerah sejarah kemerdekaan indonesia dimana ada situs sejarah penjara dan camp pembuangan dan pengasinagn Tokoh Proklamator Indonesia yairu Bung Hatta dan pahlawan nasional Syahrir, harus bisa dikekola dengan baik sebagai objek pariwisata budaya, potensi kebudayaan 5 suku boven juga mampu menarik minat wisatawan untuk melihat keunikan kebudayaan mereka, khususnya ialah kebudayaan suku koroway yaitu rumah pohon, rumah pohon memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh suku lainya dipapua. Dimana rumah tersebut biasa didirikan diatas pohon dengan ketingian 8 - 20 meter menopang dibatang pohon besar yang kuat. Pemerintah mampu mengandalkan sektor pariwisata sebagai sumber baru perekonomian masyarakat, dengan pengelolaan yang baik dengan cara yang lebih manusiawi, menghargai hutan dan kebudayaan lokal papua.

Jumat, 02 Maret 2018

Nup Bagen Nggup Bagenep Nggup Bagenep Nup Bagen

Lapangan Trikora Distrik Mnadobo Kabupaten Boven Digoel, by Annisa Nanda Putri
` Masih di kota kecil di pedalaman papua yang penuh cinta, sampai ku abadikan dalam status Whatapps ku dengan kata “bertebar cinta di bumi papua” itulah sebagian kecil kebanggaan akan kenangan berkunjung ke tanah papua. Kota kecil yang berada di tengah hutan belantara serta di lingkari oleh sungai besar, digoel. Sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat boven digoel, karenna potensi perikanannya yang sanggat besar, segala jenis ikan tersedia dengan ukuran yang tak biasa, yeaah…. wajar saja dengan besar dan panjangnya sungai digoel serta hutan yang masih terjaga membuat ekosistem tetap alami dan lestari. Sungguh nikmat yang luar biasa yang sudah tak lagi ditemukan di jawa maupun daerah lainnya, boven masih sanggat alami, indah dan menyenangkan.
Udang Hasil Tangkap Warga di Sungai Digoel by Krishuda 

Sore itu, seperti biasa kami semua menghabiskan waktu dengan berolahraga, lari, sepakbola, badminton, atau hanya senam jari di layar android yang hanya bisa untuk bermain onet karena tidak ada sinyal internet. Walaupun pada akhirnya hal itu juga merupakan kondisi terbaik selama beberapa dekade mengenal teknologi, bahwa kita merasa lebih hidup tanpa teknologi itu sendiri, kesana kemari hanya melalui teknologi bacot disertai komitmen menepati janji yang disepakati dalam pertemuan, haha yang menarik tak ada pembatalan tanpa tatap muka.. so happy, no gadget i am happy. Yeahh harusnya ini jadi kata penutup… Back! sore itu seperti sore-sore lainya selama hampir 3 bulan lamanya, sama indahnya setiap harinya, aku dan kita bersama tanpa kepalsuan yang biasa tampak pada fitur emotion whatapps.
Kondisi Jalan Raya Bandara Boven Digoel by Krishuda
Suatu hari dikala sore di hari sabtu pada bulan september, tepat di depan lapangan trikora atau tepatnya di depan posktis SK-5 yang ada di Distrik Mandobo, distrik dimana Ibukota Kabupaten Boven Digoel ada. Sore itu tak seperti biasa masyarakat berkumpul, menebang pelepah sagu dan menyulammya secara kasar menjadikanya pagar pembatas ruang pesta, ramaiiii… sehingga ukuran ruang 5 x 6 m dapat diselesaikan dalam 1 x 45 menit, hal ini diukur dari durasi waktu kami main bola yang sedang kami lakukan kala itu. Yeahh.... cepat mereka gotong royong! Kebersamaan mereka membuatku tertarik, karena kebetulan penelitian ku mengenai sosial budaya tentu saja ini menjadi suatu perantara yang menarik untuk mengenal mereka lebih jauh. Kalian tahu, kesan pertama saat akan berinteraksi dengan mereka khususnya bagi para pendatang yang mencoba menjalin hubungan, kau akan menjadi objek perhatianya, hal ini tentu berlawanan karena aku yang akan mempelajarimu, begitulah kiranya keingin tahuan mereka sanggat tinggi. Kau tahu kenapa? Yang pasti mereka juga ingin maju dan berkembang, itu yang terbesit. Tanpa mereka tahu sebenarnya kami ingin menjadi seperti mereka, karena  itu adalah nikmat yang besar, dimana kebersamaan, gotong royong suit kami temukan dikota

Tuhanku, aku dikala sadar.

Perubahan perubahan yang dihasilkan dari kegiatan yang terencana dengan baik dan terstruktur ialah merupakan pencapaian yang signifik...