Perubahan perubahan yang dihasilkan dari kegiatan yang terencana dengan baik dan terstruktur ialah merupakan pencapaian yang signifikan dari suatu proses pencapaian tujaun, tidak ada garis finish dimana tujaun itu akan berhenti, perubahan-perubahan yang diinginkan secara bertahap muncul seiring tujuan yang ditetapkan secara berkala menyesuaikan kondisi dan tantangan zaman. Tujuan yang bersifat makro dirancang sebagai sesuatu yang idealis, sesuatu yang akan membawa pengaruh pada bagian-bagiannya atau mikronya. Maka penetapan konsepsi tujuan hendaklah harus disesuaikan juga dari aspirasi-aspirasi mikro, agar apa yang menjadi tujuan ialah merupakan keinginan bersama, perwujudan konsep kebersamaan dalam kehidupan.
Pengerak perubahan berawal dari kesadaran terhadap keadaan yang masih belum maksimal dalam memanfaatkan energi-energi yang ada, gerakan-gerkan perubahan yang dilakukan merupakan suatu bentuk perlawanan terhadap belenggu-belenggu yang mengikat energi, contoh energi yang berupa konsepsi (pemahanamn) sistem masyarakat misalnya, suatu pengelompokan masyarakat yang sengaja di munculkan berdasarkan nilai-nilai keuntungan pribadi seperti penciptaan perumahan berbasis komplek, penciptaan-penciptaan yang hanya memetingkan kepentingan ekonomi, penimbunan harta. bagaimana sebenarnya hal itu merupakan kesesatan berfikir, satu dari sekian alternative yang digunakan dalam menarik minat pembeli yang memiliki kesamaan berfikir sesat dalam mementingkan kepentingan pribadinya, hidup nyaman dalam perspektifnya, kenyamanan dalam pemahaman sendiri, kehaniefan sesat yang menyalahi aturan manusia sebagai mahkluk sosial yang suka bermasyrakat.
Makna kebebasan harus dimaknai dengan pemilihan solusi yang dinamis dan bertanggung jawab, tanggung jawab akan pentingnya menjaga nilai-nilai sosial, nilai nilai sosial yang memandang kesamaan setiap manusia, penghargaan terhadap setiap perbedan dari setiap jiwa, pertanggungjawaban universal individu terhadap sistem masyarakat yang sesuai nilai kemanusiaan, menjaga kehaniefan manusia untuk tetap sesuai sifat ketuhanan yang adil pada diri sendiri maupun lingkungannya.
Kemampuan paham manusia sebagai makhluk kebanggan tuhan yang dibelaki pola pikir yang sistematis, sistematis dalam menilai manfaat dan dampak dari setiap pilihan keputusannya. Tak perlu repot mencari siapa dirimu yang benar dalam bimbingan tuhan, walau mungkin itu klaimisasi kebenaranmu. Namun menjadi hanief ialah sadar akan kemanusiaanmu, yang hidup karena makan dan minum, yang hidup baik karena dibekali akal dan pikiran, yang memiliki energi pengerak berupa nafsu yang fluktuatif. Kesemuannya yang dinikmati dengan keterbatasan sehingga dapat dinikmati pada rentang waktu yang diukur mengunakan kesadaran. Tuhan mungkin tak perlu repot mengeluarkan firman seandainya sebagaian besar kita bersikap layak, layak untuk di katakan sebagai manusia yang berfikir, yang sadar pada keterbatasan dan kemampuan pelampauannya, yang mengerti bagaimana menikmati nikmatmu sendiri maupun nikmatnya sebagai nikmatmu. Apakah tuhan usil ketika menjadikan sebagain kecilnya bodoh, walau kata bodoh itu tak ada andai yang tak tahu tetap mengikuti kata hatinya (hanief). Namun sayangnya, mungkin sebaliknya sebagian besar itu tak memahami, dan sebagian lainya yang sanggat sesat ialah mereka yang paham dan tak mau memahaminya.
Ini ialah Essai Energi, menurutku. Jadi ikutkan saja, jika kau cukup memgerti kebodohanku.





